Untuk Sahabat - sahabat ku.. 0 komentar
Dulu saat pertama bersatu tak pernah terbayangkan dalam hatiku kita semua akan berpencar....
Dulu saat pertama saling kenal tak pernah terbersit dalam prasangka ku kita semua akan berpisah...
Dulu saat pertama kita saling berkata tak pernah ku siapkan ucapan selamat tinggal...
Dulu saat pertama kita saling tertawa tak pernah ku bayangkan mengusapkan tisu di pipiku...
Dulu saat pertama kita bercanda tak pernah ku rencanakan akan berbagi air mata...dengan kalian......sahabat - sahabat ku.
Dulu saat pertama saling kenal tak pernah terbersit dalam prasangka ku kita semua akan berpisah...
Dulu saat pertama kita saling berkata tak pernah ku siapkan ucapan selamat tinggal...
Dulu saat pertama kita saling tertawa tak pernah ku bayangkan mengusapkan tisu di pipiku...
Dulu saat pertama kita bercanda tak pernah ku rencanakan akan berbagi air mata...dengan kalian......sahabat - sahabat ku.
Bingkisan Untuk Guru Ku.. 0 komentar
Bingkisan Untuk Guru ku....
Seandainya aku kembali ke masa di saat ibu masih bebas menatap mataku dengan cemas, akan ku catat setiap kata kata mu yang kini menjadi mutiara hidup ku.
Seandainya aku kembali ke masa di saat bapa masih tegas mengajarkan bahwa hidup itu keras, akan ku ikuti semua nasihat mu yang kini menjadi nyawa hidup ku.
Seandainya aku kembali ke masa di saat bapa masih tegas mengajarkan bahwa hidup itu keras, akan ku ikuti semua nasihat mu yang kini menjadi nyawa hidup ku.
Cita - Cita di balik harapan 2 komentar
Orang tidak makan,satu minggu akan tetap bertahan hidup....
Orang tidak punya air untuk minum,3 hari ia akan tetap bertahan hidup...
Tapi orang tidak akan bertahan satu hari pun ketika ia tidak punya harapan......
Puisi Hatiku 0 komentar
Kuserahkan
Kuserahkan jalan yang terjadi
Kudaki gunung yang menjulang tinggi
Kudobrak rintangan yang menjulang
Perlahan ku hancurkan tipu-tipu yang membelenggu
Kini Godaan dan cobaan datang menjelang
Ingin ku hapus dan kuhancurkan semua itu
Namun aku tak berdaya
JALALUDIN RUMI 0 komentar
Bersatu Dalam Cinta
Berpisah dari Layla, Majnun jatuh sakit. Badan semakin lemah, sementara suhu badan semakin tinggi.
Para tabib menyarankan bedah, “Sebagian darah dia harus dikeluarkan, sehinggu suhu badan menurun.”
Majnun menolak, “Jangan, jangan melakukan bedah terhadap saya.”
Para tabib pun bingung, “Kamu takut? padahal selama ini kamu masuk-keluar hutan seorang diri. Tidak takut menjadi mangsa macan, tuyul atau binatang buas lainnya. Lalu kenapa takut sama pisau bedah?”
“Tidak, bukan pisau bedah itu yang kutakuti,” jawab Majnun.
“Lalu, apa yang kau takuti?”
“Jangan-jangan pisau bedah itu menyakiti Layla.”
“Menyakiti Layla? Mana bisa? Yangn dibedah badanmu.”
“Justru itu. Layla berada di dalam setiap bagian tubuhku. Mereka yang berjiwa cerah tak akan melihat perbedaan antara aku dan Layla.”
Berpisah dari Layla, Majnun jatuh sakit. Badan semakin lemah, sementara suhu badan semakin tinggi.
Para tabib menyarankan bedah, “Sebagian darah dia harus dikeluarkan, sehinggu suhu badan menurun.”
Majnun menolak, “Jangan, jangan melakukan bedah terhadap saya.”
Para tabib pun bingung, “Kamu takut? padahal selama ini kamu masuk-keluar hutan seorang diri. Tidak takut menjadi mangsa macan, tuyul atau binatang buas lainnya. Lalu kenapa takut sama pisau bedah?”
“Tidak, bukan pisau bedah itu yang kutakuti,” jawab Majnun.
“Lalu, apa yang kau takuti?”
“Jangan-jangan pisau bedah itu menyakiti Layla.”
“Menyakiti Layla? Mana bisa? Yangn dibedah badanmu.”
“Justru itu. Layla berada di dalam setiap bagian tubuhku. Mereka yang berjiwa cerah tak akan melihat perbedaan antara aku dan Layla.”
Langganan:
Postingan (Atom)
